Mene

Tampilkan postingan dengan label Hadiah Valentine Sanna Shop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadiah Valentine Sanna Shop. Tampilkan semua postingan

Pemenang Hadiah Valentine Sanna Shop

Halo semua! Bagaimana kabar kalian?

Ini tangal 5 Maret 2012 dan pasti kalian ingat donk ada apa hari ini?

Yup! Pemenang Hadiah valentine Sanna Shop!

Tiga tulisan yang terpilih berhak mendapatkan hadiah novel di bawah ini:

Juara pertama : “A Question of Love”
Juara Kedua : “Goodnight Tweetheart”
Juara Ketiga : “Ini Rahasia”

Tanpa basa basi lagi, berikut ini 3 orang yang memenangkan Hadiah Valentine Sanna Shop:

Juara I : Eko Wurianto : "Selingkuh"


Juara II : Luneta Aurelia Fatma : "Apa yang kau inginkan?"


Juara III: Maretha : "Putih Abu-Abu"

Para pemenang diharapkan mengirimkan alamat lengkap beserta kode pos dan nomor yang dapat dihubungi ke email Sanna Shop: sannashop@yahoo.com

Pastikan alamat yang dikirim merupakan alamat jelas karena hadiah akan dikirimkan ke alamat tersebut.

Sekali lagi selamat buat para pemenang!

Nantikan kejutan Sanna Shop yang lainnya!

Happy shopping!

2 Kali Cinta Menyakitiku –Risdhian Rizki putera

Kelas X-2

Berawal dari aku yang suka meminjam ponselnya hingga aku jatuh cinta padanya.aku punya teman sebut saja namanya elis dia teman satu kelasku di kelas sepuluh ini.dia cewek yang baik,pintar dan menurutku dia asyik.aku sering meminjam ponselnya buat internetan.entah kenapa berawal dari situ aku mulai dekat dengannya,meskipun aku tau dia suka sama anak kelas lain yang namanya tony.aku tidak peduli.hingga aku dan elis sering sms-an hampir tiap hari.teman-teman di sekolah sering mengejekku dan mengira-ngira kalau kami berdua “jadian”.tapi aku hanya biasa saja menanggapinya.

Sampai suatu hari pulang sekolah aku menanyakan kabar elis lewat sms apakah dia sudah sampai kerumah atau belum.aku mulai sedikit basa basi untuk menembaknya.kemudian aku menyatakan cinta padanya.kutunggu balasan sms darinya cukup lama,hingga sampai akhirnya ia mengatakan “iya”.rasanya aku bagaikan terbang.aku tidak menyangka cintaku diterima.

2 minggu aku jadian dengan elis semulanya baik-baik saja.hingga akhirnya dia mengatakan kalau dia masih suka sama tony.itu membuat hatiku hancur.kenapa dia tega mengatakan itu kepadaku tapi meskipun begitu aku agak sedikit lega karna dia sudah jujur padaku.aku tidak mau kehilangannya,dia sangat penyabar dan penyayang.aku tidak menyangka aku benar-benar cinta padanya.

Saat itu sedang pelajaran olah raga.guru kami pak adi sedang tidak masuk.sehingga dikelas sangat ramai bagaikan pasar.aku duduk dengan teman sebangkuku bernama reza aku mengobrol dengannya.tiba-tiba Hp ku bergetar ada pesan masuk dari “lovelis” (begitulah aku menyimpan namanya di contact personku) :

Risdhian aku minta putus.

Aku terduduk lemas di bangkuku.rasanya aku tidak percaya orang yang selama ini aku cintai ternyata harus berakhir sampai disini.

KELAS XI IPA 2
Sudah hampir berbulan-bulan aku tidak pernah berhubungan lagi dengan elis.semakin membuatku jauh dari elis kini kami berbeda kelas.aku tidak pernah sms-an lagi dengannya apalagi tegur sapa disekolah.hingga suatu hari dia sms minta maaf kalau dia tidak bisa mendiamiku.aku pun memaafinya.

Berawal dari situlah cinta yang kedua kalinya menyakitiku.aku pun kembali bertegur sapa dengannya dan aku kembali sms-an dengannya.

Kesalahanku terjadi lagi.aku menyatakan cinta lagi padanya dan dia menerimaku kembali.kami pun jadian diam-diam tidak ada yang tau disekolah kalau aku pacaran dengan elis.pertamanya cinta memang indah tapi lama kelamaan elis berubah dia jarang sekali sms-an denganku.dia gak bakal sms kalau belum aku yang mulai duluan.bahkan sampai 3 hari tidak ada sms darinya.aku pun mulai mempertanyakan.ada apa dengan elis?

Sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti akan tercium baunya juga.begitulah pribahasa yang tepat untuk elis.dia menduakanku.dia diam-diam jadian dengan seseorang tapi aku tidak mengenalnya dan hal yang paling aku membuat sakit hati lagi,hari dan tanggal dia jadian denganku sama persis dengan cowoknya sekarang ini.aku pun memutuskan hubunganku yang kedua kalinya dengan elis.rasa benci dan kecewaku kutumpahkan semua padanya dan semenjak hari itu aku tidak mau lagi kenal dengannya.

Kini aku sekarang menyukai teman sekelasku yang bernama margaret,tapi sebuah tembok besar menghalangi yaitu perbedaan agama kami.

ya begitulah cinta kadang indah kadang juga menyakitkan,kadang senang dibuatnya kadang sedih harus diterima,kadang buat kita bangga kadang juga dikecewakannya dan kadang yakin akan cinta tapi cinta yang harus menghalangi.


(diikutkan dalam rangka “Hadiah Valentine Sanna shop” (http://www.facebook.com/sannashop))
Sebagai persyaratan lomba aku mengajak temanku untuk ikut:
1.Luneta (http://www.facebook.com/luneta aurelia fatma)
2.Febri(http://www.facebook.com/febry adithya utami)
3.indra (http://www.facebook.com/zoro indra)
4.meyra(http://www.facebook.com/meyra daniela meyra)
5.novia(http://www.facebook.com/novia love him)

A Farewell To HMS - Meliana L Prasetyo

Logan International Airport, Boston

Setelah beres urusan imigrasi, saya langsung melangkahkan kaki mengarah ke pintu keluar sambil (berusaha) menghindari antrian orang-orang yang menunggu bagasi. Berbeda dengan biasanya, kali ini saya tak membawa satu potong bagasi pun. Tapi kedatangan kali ini juga berbeda dengan biasanya kok. Biasanya saya ke sini untuk tinggal dalam jangka waktu lama, namun kali ini hanya 3 hari. Biasanya saya ke sini dengan perasaan gembira, namun kali ini dengan rasa pedih. Biasanya saya ke sini untuk mengunjungi Rizal dan membuat memori baru namun kali ini untuk menutup kisah dan menghapus jejak kenangan. Dan yang paling terasa : biasanya Rizal yang menjemput saya di bandara, namun kali ini saya dijemput Rifqi, adiknya.

Setelah berbagi pelukan singkat dengan Ifqi, kami langsung menuju ke mobil. "Val, besok pagi aja ya ke kampus. Sekarang ke rumah dulu. Nana kangen sama loe," katanya. Saya langsung menyetujui. Selain karena masih lelah setelah penerbangan panjang selama 30 jam lebih, saya juga merasa belum siap untuk bertemu kampusnya Rizal.

Kampus?
Yup...kedatangan saya ke Boston ini memang untuk membereskan barang-barang Rizal yang masih tertinggal di kampusnya. Semestinya ini menjadi tugas keluarganya Rizal, namun Abi menawarkan pada saya untuk mewakili beliau. Abi paham bahwa saya perlu mengunjungi kota ini sekali lagi. Untuk nostalgia dan juga pamitan pada kota tua yang masih cantik ini walo sebenarnya ada rasa nyeri di dada kiri yang timbul ketika saya pertama melihat kota ini dari atas pesawat tadi.

Esok paginya...
Setelah beristirahat semalaman dan menempuh perjalanan singkat ke Cambridge, sampailah kami di kampus itu.
Kampus tua cantik dengan 5 gedung marmer putihnya yang terkenal dengan sebutan "Great White Quadrangle"nya. Kampus kedua yang paling sering saya datangi.
Kampus yang merekam masa-masa bahagia saya.
Tadinya, saya berencana jalan kaki dari pintu depan hingga ke Vanderbilt (tujuan pertama saya). Tapi rasa nyeri di dada kiri yang semakin bertambah membuat saya membatalkan rencana itu dan memilih naik mobil bareng Ifqi sampai ke asrama.

Di asrama, Charlie sudah menanti saya. Agak surprise juga melihat dia. Dilihat dari waktu itu yang masih pagi, semestinya dia masih kuliah. Rupanya, dia sengaja gak masuk demi menemani saya. Charlie mengajak saya ke kamarnya.
Berhubung kamar Rizal harus segera dikosongkan karena mau dipake siswa lain, maka Charlie membereskan semua barang Rizal dan menyimpannya di kamarnya sendiri. Charlie sudah mengepak barang-barang Rizal dengan rapi dalam kardus. Dan semestinya saya tinggal mengangkat kardus itu.

Tapi dasar saya masochist >.< , saya malah sengaja membuka kardus itu dan mengecek satu persatu barang-barang milik Rizal. Ada bola basket dengan tanda tangan Michael Jordan yang sangat dia banggakan itu, ada jam weker doraemon yang bunyinya berisik banget dan kalo dibunyikan berpotensi bikin semua orang dalam radius 5 meter kena serangan jantung, ada sepatu bola, kaos-kaos lusuh yang katanya adem buat dipake tidur, koleksi lengkap CD Beatles yang selalu dipamerkannya kemana-mana, sejumlah kertas dan buku dan...ah sudahlah...diteruskan lagi bisa mewek saya :').

Setelah rapi mengatur kardus-kardus itu di mobil, kini saya menuju ke kampusnya. Tepatnya ke ruang kerja. Kalo di sini, semua barang Rizal masih dibiarkan di posisi semula. Charlie sudah menyediakan kardus-kardus kosong buat modal saya mengepak.
Sambil menyetel Ipod milik Rizal yang ditinggalkannya disitu, saya memulai proses pengepakan itu. Oh...bye the way, lagu di Ipodnya Beatles juga dong :D. Saya langsung mencari lagu Blackbird yang merupakan lagu Beatles favorit saya (saat ini)

Blackbird singing in the dead of night
Take these broken wings and learn to fly
All your life
You were only waiting for this moment to arise

Yang pertama masuk kardus jelas kertas dan buku-buku yang bejibun itu. Pahit rasanya melihat semua catatan yang dibuatnya. Karena saya teringat lagi dengan semua mimpi dan cita-cita yang kini harus kandas.
Lalu stationery yang gantian masuk kardus, disusul plakat nama Rizal, globe, kursi putar (boong deng :p), semua alat-alat penelitiannya, coffee set dan mugnya. Ah pokoknya semualah. Sementara lagu Blackbird masih terus mengalun, dan rasa sakit di dada kiri kian menjadi.

Black bird singing in the dead of night
Take these sunken eyes and learn to see
All your life
You were only waiting for this moment to be free

Seharusnya sih setelah beres packing, beres juga urusan saya di kampus itu.
Tapi saya pengen banget keliling-keliling di kampus itu (mungkin) untuk yang terakhir kali (He-eh. Memang masochist kok ;p). Saya bahkan meminta Ifqi menunggu di depan gerbang saja karena saya berencana jalan kaki ke gerbang setelah tour ini berakhir.

Ditemani Charlie saya pun memulai tur singkat namun pahit itu, di tengah cuaca Boston yang masih menyisakan aroma musim dingin.
Mulai dari Gordon Hall yang bangunan utama itu. Berlanjut ke Countway Library yang keren mampus dan sering jadi tempat saya terkantuk-kantuk menunggui Rizal yang sedang belajar di sana. Tempatnya Rizal di Goldenson Building. Menengok ruang kelas luas banget yang selalu bikin saya kagum itu. Dilanjutkan ke building lain seperti Armenise atau Warren. Semuanya keren, semuanya berwarna putih (ato kelabu?) dan semuanya menambah nyeri di dada kiri.

Lalu ke Vanderbilt yang paling penuh memori itu (btw di saat itu saya baru nyadar, ini tournya kok muter-muter sih? Gak praktis. Begitulah kalo lagi kusut). Menengok Common Room, Kitchen (iseng amat ya nengok ke dapur), Tennis court, Gym room (salah satu tempat yang dulu sering saya masuki) dan yang paling lama saya nikmati : Lapangan Basket indoor-nya.
Di jam segitu, area itu masih kosong. Tapi saya bisa dengan jelas menghidupkan kembali semua memori disana : jam-jam yang saya habiskan dengan menonton Rizal latihan, juga sorak sorai saya kalo Rizal lagi tanding iseng dengan teman-temannya (biasanya saya ngedukung lawannya ;p). Saya bahkan masih mengingat suara decit sepatu yang beradu dengan lantai kayu dan suara bola yang memantul. Semua memori itu kembali dan makin membangkitkan nyeri di dada kiri.

Dan mungkin saya memang masochist sejati (ato cuma mellow?) karena saya masih kekeuh meneruskan tour pribadi itu ke atrium dan ke lapangan rumput di HMS Quad itu. Tiap kali melihat lapangan rumput yang rapi itu, saya selalu kagum pada para tukang kebun yang niat banget menjaga kebersihan dan kerapihannya.
Di lapangan itu, Rizal dan teman-temannya suka ngumpul untuk belajar atau berdebat.
Di lapangan itu, saya biasa membawa bekal yang sudah saya siapkan dari rumah Nana dan kami bakal piknik ngumpet-ngumpet disana.
Di lapangan itu, saya menikmati kedamaian kecil seperti membaca buku favorit ditemani angin sepoi-sepoi sementara Rizal asyik membaca bukunya sendiri di sebelah saya.
Di lapangan itu, rasanya kami aman terlindungi dalam dunia kami.
Dan pada lapangan itu, sungguh saya mengharap waktu membeku disana.

Sampai disini, saya sudah gak tahan. Rasa sakit di dada kiri makin bertambah. Sakit menusuk dan kini ditambah rasa sesak dan berat di dada. Maka saya pun mengajak Charlie untuk jalan menuju ke mobil.
Sepanjang jalan, saya melihat sekeliling. Pohon tua yang besar namun sedang meranggas itu, batu-batu kelabu itu, rumput hijau itu, pemandangan orang-orang yang sibuk lalu lalang. Saya berusaha merekam semua pemandangan dan semua suasana. Merekam dan menyimpannya di kotak hitam kenangan.

"You sure wanna go home now? Let's have some eat at the Faculty Club," ajak Charlie tiba-tiba.

"Sorry, no time. I got a plane to catch. And I still have to pack all his things in my luggage," tolak saya.

"So...this is it, then? It's maybe your last time in here. C'mon. You have to come to Club for one last time.

Saya menggeleng sambil terus berjalan. Walaupun tawaran makan di Club memang sangat menggoda, tapi saya gak pengen menambah rasa nyeri di dada kiri itu. Mendekati pintu keluar, saya menyadari ada beberapa orang yang berkerumun di depan sana. Sayang, karena gak pake kacamata, saya gak langsung ngeh siapa mereka. Baru setelahnya saya sadar, ternyata itu adalah Tay, Alan, Ravi, Cindy, Jay, pendeknya semua teman Rizal disana. Mereka datang untuk menyapa saya, memberi pelukan sekaligus mengucapkan "final goodbye" mereka ke Rizal (yang ceritanya diwakilkan oleh saya).

Pelukan terlama dan paling berkesan tentu dari Jay. Ah jadi ingat. Saya sempat jealous berat sama cewek ini karena Rizal. Bodoh tentu. Karena tak satu pun dari kami yang akhirnya mendapatkan cowok itu. "Call me if anything, Val. Or even call me if nothing. Do come here again," adalah pesan Jay pada saya.

Dan begitulah...
Diiringi pelukan dan salam dari semua rekan Rizal, saya pun naik ke mobil bersama Ifqi. Dan (mungkin) untuk terakhir kalinya, saya menengok dan menatap gedung megah bermarmer putih itu.
Bye-bye Boston. Sepertinya saya gak akan balik ke sini dalam jangka waktu lama.
Bye-bye Harvard Medical School. Mungkin jodoh kita memang cuma sampai disini. Tapi terima kasih telah memberi satu mimpi pada seorang Rizal dan memberi saya kenangan manis karenanya. Dan terutama terima kasih karena pernah memberi kami "rumah".

Blackbird fly, Blackbird fly
Into the light of the dark black night.

Cerita Tentang Cinta - Alvina Ayu

Aku pernah menyukai seorang pria. Sebut saja dia Cinta. Mencintai Cinta bukanlah suatu hal yang sulit, ia baik, ramah dan kebanyakan wanita akan langsung berdebar begitu Cinta memanggilnya. Bukan, bukan debar ketakutan, tapi lebih berupa debar yang membuat wajah seketika merona.
Cinta memang tampan, hanya sayangnya dia tipe lelaki yang sulit untuk jatuh cinta terhadap wanita. Aku pernah mendekatinya dan mengungkapkan perasaanku terhadap dia.Jawabannya hanya senyum, entah mengapa Cinta tak terkejut. Seakan dia sudah tahu bahwa aku akan “menembak” dia duluan.

“Aku nggak pingin punya Pacar, Na.”, begitu jawab Cinta saat itu.
“Kenapa?”
“Aku masih menikmati kebebasanku. Aku tak mau secepat ini terikat dengan wanita.”

Aku yang saat itu ditolak mentah-mentah tentu saja kecewa. Rasanya ingin membenci dia karena menolak pengungkapan cintaku. Apalagi aku wanita, jarang kan Wanita “nembak” Pria duluan?
Tapi apa mau dikata, Cinta tetaplah Cinta. Ia masih pintar menebar senyum dan menumbuhkan asmara di kalangan kami teman wanitanya.

Suatu hari aku terpaksa pindah ke luar kota. Lama rasanya tak berhubungan lagi dengan Cinta. Kabarnya diam-diam aku tanyakan lewat seorang sahabat yang rumahnya dekat dengan rumah Cinta. Mengapa aku tidak bertanya langsung ke Cinta? Malu rasanya, apalagi kalau sudah ditolak mentah-mentah sama Cinta. Masa masih keukeuh pedekate? Sahabatku bilang, sekarang Cinta sudah berubah. Dia tidak lagi ramah seperti dulu, wajahnya juga kerap dirundung sendu.
Sampai aku dapat kabar dari Sahabatku, kalau Cinta melanjutkan study ke luar kota. Setelah itu Cinta jarang pulang ke rumah. Hidupnya sekarang lebih banyak dihabiskan di kota yang dia gunakan untuk menimba ilmu. Keluarganya juga menjadi tertutup, jarang bertegur sapa dengan tetangga.

Entah bagaimana kabarnya Cinta sekarang. Mungkin dia sudah menemukan kebahagiaannya di sana, begitu selalu yang kuharapkan. Mungkin dia sudah mendapatkan apa yang dicita-citakannya, atau mungkin dia sudah berkeluarga seperti aku sekarang. Cinta adalah masa lalu, seorang Pria yang pernah menolak perasaan cintaku.


(Jumlah Kata : 300). Diikutkan dalam rangka "Hadiah Valentine Sanna Shop“

Selingkuh - Eko Wurianto

Namaku Abdi Nagari, guru Biologi di SMP pelosok yang jauh. Aku sudah menikah dengan seorang perempuan tetangga desa yang berpostur tinggi. Darinya kudapatkan dua anak. Dua-duanya pria dan dua-duanya masih balita saat ini. Yang tampak, keluarga kami bahagia dan baik-baik saja. Tapi yang sebenarnya, tidak sedemikian halnya. Ada rahasia yang kusembunyikan rapat dari keluargaku itu. Sepertinya, aku tidak lagi mencintai istriku.

Aku tidak tahu kapan persisnya hal itu bermula. Seakan-akan rasa cintaku pada ibunya anak-anak hilang begitu saja. Wanita yang pernah kuperebutkan bersama lima pria lain itu, kini seolah tak ada lagi maknanya bagiku. Layaknya debu yang diterbangkan angin saja. Memang, kami masih sering berbelanja atau bersepeda berdua. Selepas isya’, rutinlah kami duduk-duduk di teras depan. Ngobrol sembari menikmati secangkir kopi panas kesukaan kami. Tapi seperti yang telah kukatakan, semuanya itu tidak lagi terdapat rasa. Hambar saja kukira. Tidak seperti waktu dahulu.

Dulu, sekali-kali aku marah pada istriku. Marah atas keteledorannya menjaga buah hati yang kusayangi. Anak yang terpeleset jatuh atau yang tersayat pisau tangannya hingga menangis melolong-lolong membuat tetangga kanan kiri tergopoh-gopoh datang menanyakan. Naik darahlah aku padanya. Hanya, setelah itu, kembalilah semua seperti sedia kala. Seolah aku tidak pernah marah, layaknya istriku tak pernah salah.

Banyak kali pula aku marah karena keadaan rumah yang berantakan. Mirip kapal pecah. Disana-sini mainan anak-anak, potongan-potongan kertas, bahkan ompol si bungsu yang belum juga dibersihkan. Wajar kuanggap kalau aku marah. Lelah aku pulang dari Sekolah. Lelah badan, lelah juga pikiran, kok seperti demikian keadaan rumah. Namun, setelah reda marah, aku sendirilah yang merapi-bersihkan rumah. Sambil menyanyi-nyanyi pula.

Marahku di waktu lampau, marah yang biasa juga dilakukan banyak orang. Tapi sekarang, sedikit-sedikit aku jengkel padanya. Apa yang dilakukan wanita itu hingga sayur kurang asin? Kok tidak pintar dia menyertrika. Baju seragam tak licin-licin juga. Tak nyaman dipakai, tidak sedap dipandang. Kalau sudah demikian, kubentak-bentak ia. Dia musti diam. Jika ia berkicau menyahut kataku, kubanting pintu dan pergi semalaman. Biar tahu rasa.

Yah, mestinya hal-hal sepele seperti itu mestinya tak membuatku marah-marah. Cukuplah menggerutu kecil atau menghela nafas panjang tanda tak senang. Tapi itulah, masalahnya bukan Cuma karena sayur yang kurang asin atau baju yang kurang licin. Tapi masalahnya, aku tidak lagi mencintainya.

Kian hari, kian aku muak dengannya. Kurasa rumah tidak juga rapi. Masakan tak ada yang enak. Dan itu lagi, tubuhnya makin melar saja. Tak ada baju yang cocok dengan badannya. Makin semrawut juga wajahnya. Si tambun dan buruk rupa pula. Batinku.

Beda jauh benar dengan bu Betti, guru geografi baru, pindahan dari sulawesi itu. Tak Cuma potongan tubuhnya yang memikat. Paras wahjahnya pun aduhai. Lagak lagunya cerdas dan tangkas. Bicaranya fasih walau cepat. Singkat kata, bu Betti itu tipe wanita sempurna.

Sejak kali pertama dia tunjuk muka ke sekolahku, aku sudah kenalan dengannya. Kusambung-sambung pembicaraan bersamanya hingga tak ada habis-habisnya. Makanya aku tahu kalau dia sebenarnya janda tanpa terbeban anak. Suaminya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas sebulan setelah pernikahan mereka. Disebab kecintaan penuhnya pada suami, sampai saat ini dia setia melajang.

Rupanya enak pula bu Betti diajak berbincang. Selalu bisa dia menyahut. Nampak terang kecerdasannya. Lama-lama makin asyiklah obrolan. Sepertinya kalau sehari tak ngobrol dengannya, ada yang kurang dari hari itu. Cuma mungkin aku telah kebablasan. Masa kalau bu Betti tak masuk, aku kangen benar padanya. Mulanya aku sadar ini kesalahan besar seorang pria yang sudah beristri. Tapi rasa senang saat berdua dengannya, mengikis akal sehatku. Orang rumah tak tahu kenapa harus dipikir?

Diam-diam, aku mengkhianati istriku. Setelah setahun, kubilang pada bu Betti kalau aku mencintainya. Ku kirim lewat SMS dijawabnya pula lewat SMS setelah dua bulan berselang. Bahagia aku, saat tahu dia merasa sama pula. Hanya, dia bilang, pria beristri tak layaklah menjalin hubungan asmara dengan wanita lain. Tapi kudesak saja ia. Ini rahasia antara dua orang saja. Tidak orang sekantor, tidak orang sekampung yang boleh tahu. Yang penting aku tahu bu Betti cinta aku, bu Betti tahu aku cinta dia. Kasih sayang dilanjut lewat telepon atau SMS rahasia, lewat senyum mesra atau lewat kerlingan mata saja. Atau kirim-kiriman hadiah di hari ulang tahun. Cukuplah seperti itu. Akhirnya bu Betti mengiyakan juga.

Selama beberapa saat, semuanya berjalan lancar. Hubunganku dengan bu Betti aman dan tak ada yang tahu. Sekolah menjadi tempat yang indah, sedangkan rumah adalah tempat yang tak membuatku betah. Hingga sampai di hari itu. Istriku jatuh sakit.

Kenapa juga si Upik Abu itu sakit. Jengkel aku dibuatnya. Kini aku harus mengurusnya. Menambah-nambahi pekerjaan saja. Tambah lama sakit istriku bertambah parah hingga harus opname di rumah sakit. Ingin sekali aku meninggalkannya. Biar saja dia terbaring sendirian di gedung pesakitan itu sendirian. Tapi pasti orang banya akan mengata-ngataiku, menggunjing dan menyalahkanku. Bisa-bisa hubunganku dengan bu Betti akan tersingkap. Jadi kusabar-sabarkan diri merawatnya. Syukur-syukur dia dipanggil Tuhan biar sekalian bebas aku berkasih-kasihan dengan bu Betti.

Tapi benar-benar lelah dan merepotkan mengurus rumah dan anak-anak. Jadwalku sekarang, bangun pukul tiga pagi, memasak atau mencuci dan membersihkan rumah. Jam lima aku bangunkan anak-anak, memandikan mereka dan mengantarkan mereka ke rumah mertuaku. Kutitipkan mereka di sana lalu mampir sebentar ke rumah sakit sebelum ke Sekolah. Pulang dari sekolah, kembali lagi ke rumah sakit sampai sore. Pulang ke rumah lagi. Bersih-bersih, kemudian menjemput anak-anak. Memandikan, menyuapi dan menina bobokan mereka. Sedang di malam hari ibu mertuaku yang menunggui istriku. Atau kadang-kadang aku aku yang di rumah sakita sedangkan anak-anak ditunggui adik iparku.
Terus-terusan seperti itu membuatku lelah sekali. Frustrasi aku mengurus anak-anak yang nakal. Ingin kumarahi saja mereka agar menurutkan maksudku. Tapi aku tak tega juga. Pernah sekali aku marahi salah seorang dari mereka karena kupikir sudah keterlaluan ulahnya. Tapi langsung saja dia menangis dan memanggil-manggil ibunya. Kepada tangis anakku, aku tak sampai hati.

Malam itu, setelah anak-anakku tidur, aku tidak segera tertidur. Kelelahan yang sangat membuatku sulit tidur. Maka aku pergi ke dapur, membuat kopi dan duduk di depan TV. Saat itu acara kesukaan istriku. Biasanya dia tidak ketinggalan menontonnya. Membangunkan aku agar menemaninya menonton dan membuatkan kopi. Agar tidak ngantuk, katanya. Menonton acara itu sendirian tanpa ditemani istriku membuatku memikirkannya untuk yang pertama kali setelah sekian lama.

Sekarang dia tergolek di rumah sakit. Pasti tidak nyaman. Coba dia tidak sakit. Pasti saat ini dia tengah mencoba membangunkanku. Lalu membuatkan kopi. Untuk yang satu ini, dia selalu melakukannya untukku. Hampir tidak pernah aku membuat kopi untuk diriku sendiri. Bahkan saat bertengkarpun, dia masih saja membuatkanku kopi. Ah, aneh. Kenapa aku keterusan memikirkan istriku? Kucoba mengalihkan pikiran pada bu Betti. Tapi pikiran tentang istriku kembali menyeretku.

Sehari-hari dia mengurus rumah, mengurus anak, tak sekali kudengar dia mengeluh atau marah-marah. Semua dikerjakannya saja. Tak pernah dia minta tolong aku mengerjakan pekerjaannya. Dilakukannya semuanya sendiri. Bahkan menyambung kabel setrikaan yang putus. Mengapa baru sekarang aku sadar ya? Padahal dia telah melakukannya sejak lima tahun yang lalu. Semenjak kami menikah.

TV tak kuperhatikan. Pikirku menerawang keluar jendela kaca yang tertembus gelap. Masih terus terkenang istriku. Wanita yang telah kunikahi itu tak pernah mementingkan dirinya sendiri. Selalu dia yang nomor dua setelah aku dan anak-anakku. Pakaianku bertumpuk di dua lemari, sedang dia satu saja. Ketika gadis dulu, pakaiannya modis dan mahal. Kini yang itu-itu saja. Make up dan parfumnya berbeda dengan gadis kebanyakan tahun dahulu. Kini bedak murah saja. Sekedar menutup kulit wajahnya setelah mandi. Lebih dipentingkannya susu anak-anak daripada kecantikannya yang dulu dipuja banyak pria. Mengapa baru sekarang aku sadar betapa dia berkorban demi aku dan anak-anak?
Pagi. Aku tak sadar semalaman. Kukunci pintu rumah, berangkat menitipkan anak-anak. Saat kuambil sepatu, kuperhatikan sandal yang tergeletak di sampingnya. Sandal istriku itu, dua tahun yang lalu aku membelikannya. Istriku masih saja memakainya meski usang sudah. Mengapa baru aku perhatikan sekarang? Suami macam apa aku ini? Aku menyesal. Semakin meyesal saat kubuka pintu kamar rumah sakit. Di atas ranjang, tiga meteran di depanku, si gembrot buruk rupa itu kini kurus dan pucat. Tidur dia hingga tak sadar aku datang. Kupandangi wajah sayu itu dari jarak satu meteran di sebelah kanannya. Tak sanggup mendekat. Sedetik lalu, sesalku pecah menjadi butiran-butiran bening mengalir di atas pori-pori pipiku.

Putih Abu-Abu - Maretha

Kisah ini berawal saat kami masih memakai seragam putih abu abu.

Bulan Agustus 2002, ada pensi di sekolah. Biasa lah.. pasti heboh bin ajaib di sekolah. Mulai dari band, cheerleader, sampai tari remo pun disajikan.
Sebagai siswa baru, termasuk aku; hanya bisa bengong dan takjub melihat sajian se heboh ini. Hahaha, maklumlah kami kan masih baru lulus dari seragam putih biru.

Hari makin siang, suasana makin naik dan mulailah para teman teman membaur dengan yang lainnya. Mulai berkenalan dan mencoba menjajaki kelas kelas lain satu per satu. Sampailah kami di kelas paling pojok, kulihat ada beberapa anak lelaki duduk di dalam kelas dan ada juga di meja. Sambil bercengkrama, memainkan gitar, bahkan ada yang bergaya seolah-olah dia irfan bachdim dengan gaya yang yaaaa.. 1/8 nya pun tidak mirip sama sekali!

Ketika pandanganku berkeliaran melihat lihat sekitar kelasnya, tiba tiba ada seorang yang berjalan mendekat ke aku. Dan ups... dia menjulurkan tangannya ke arahku pertanda ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Aku belum pernah mengenalnya, bahkan melihatnya pun baru di tempat ini. Tingginya sedang, kulitnya putih, dengan gaya rambut spike yang yaaah.. kubilang lumayan keren untuk saat itu ^^, Dengan baju yang dikeluarkan, celana seragam abu-abu dan sepatu kanvas hitam yang dipakainya sepertinya sudah bisa menceritakan sebagian dari dirinya bahwa dia seorang yang : cuek !

”Ruben.. ” suaranya lembut tapi tidak kemayu, pendek namun jelas, lafalnya tegas dan tidak berlebihan. ”Oh, ehm aku Je, iya Jessica.. tapi biasa dipanggil Je kok.. hehehe” jawabku sambil sedikit grogi, entah angin dari mana seketika itu juga suhu tubuhku meningkat dari sebelumnya. Bukan demam tapi aku meriang, bukan masuk angin tapi aku menggigil. Waaah.. pertanda apa yaaa...

Jam berganti dan bel pulang pun berbunyi, aku pulang dengan sesuatu yang berbeda ketika pertama kalo aku datang tadi pagi. Sepertinya ada lubang di hati yang tertutup oleh sebuah perasaan lain yang aku sendiri pun tidak tahu apa.

Esoknya pensi masih berlangsung, seperti orang punya hajatan, kegiatan itu dilakukan 3 hari berturut turut. Pagi itu entah kenapa, mataku tertuju pada kelasnya, seperti nya aku mencari-cari sesuatu dan itu .. dia!
Ditengah-tengah ekpedisi mataku yang masih berputar-putar pada sebuah makhluk yang ingin kulihat lagi wajahnya, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. ”Hey..”
Oh my GOD! Suara itu sepertinya aku tau?!

Tidaaaak.. apa penampilanku sudah baik? Rambutku? Bandanaku? Aduh aku kelihatan gemuk tidak ya? Suara suara ini seperti membuatku kehilangan konsentrasi dan saking bingungnya sampai sapanya tidak kubalas. Dan dia berlalu... Masuk ke kelasnya.
Damn! Apa yang telah aku lakukan? Pasti dia berpikir aku sombong, atau aku kurang ramah parahnya lagi jangan jangan dia berpikir kalau aku kurang dalam pendengaran.. Hahaha..

Kulupakan segera kejadian yang membuatku speechless, dan berusaha menenangkan diri sambil menikmati alunan musik dari kakak kakak kelasku. Mendengarkan musik memang mampu membuatku lebih tenang. Dan jam pun berlalu sampai waktu makan siang. Aku masuk ke kelas bersama teman teman yang lain, dengan tujuan kami berbarengan ke kantin sekolah. Saat hendak masuk ke dalam kelas, aku mendengar suara dari jauh memanggil ” Je .. ” sambil sedikit celingukan aku pun menoleh... And this is it ( *sambil gaya farah quinn ) sepersekian detik selanjutnya.. Aku segera mengatur keluar masuknya nafasku, menjadi lebih tenang, segera ku tenangkan langkah kakiku berusaha mendekat kepadanya ” Iya ” jawabku, ” Ke kantin yuk ” Belum sempat kujawab, dia dengan gaya cuek yang sangaaaat langsung berjalan di depanku. Ya ampun , seperti terhipnotis aku melongo, sambil tak tahu harus berbuat apa. “Udah ikut aja, kayaknya dia ngincer kamu deh “ Ucap temenku sekelas, Imel. “Eh tapi,,” Jawabku ragu.

Sekitar 1 meter dia terhenti, ditatapnya aku sambil tersenyum “Ayo” kubaca dari bibirnya walaupun suaranya tak terdengar sama sekali karena tertutup oleh hingarnya suara musik dan celotehan anak anak. Seperti tersihir oleh kata katanya yang terakhir, akhirnya aku melengkahkan kaki ku perlahan menuju ke arahnya. Sambil kuayunkan tanganku dan kurasakan hatiku tak seindah hari hari sebelumnya…

Sampailah kami di kantin nomor dua diantara jajaran kantin kantin yang ada. Betul memang, seperti makhluk asing aku melangkahkan kakiku masuk kedalam kantin dengan dekorasi hijau muda itu. Dengan jajanan yang khas Surabaya, dan berbagai jenis
minuman instan yang tergantung rapi. Membuat perutku semakin tak kompromi lagi.

Saat itu keadaan kantin ramai sekali, bunyi suara suara mereka, dentingan aduan gelas dan piring yang dimainkan oleh sepasang suami istri penjaga kantin tersebut. Tak jarang ada yang berteriak ” Bu, es ku mana? ” ” Iya ini loh ” sahut suara yang lain. Suasana yang dinamis, namun yang paling aku suka dari situasi ini adalah : Kebersamaan

” Eh kamu pesan apa? ” seakan membangunkan ku dari lamunan tadi. ” Aku minum saja ” kujawab pendek, karena memang belum pernah kutahu ada menu apa saja di kantin ini. ” Loh jangan, kamu harus makan ” jawabnya lagi. ” mie goreng 2 ya buk, pake telur ” tanpa persetujuan dari aku, langsung diputuskan pesanan kami. ” Ceplok ya jem? ” sahut ibu kantin paruh baya tersebut sambil mulai membuka bungkusan mie instan goreng dengan warna putih itu. ” Iya ” jawabnya lagi sambil mengambil tahu isi goreng yang ditumpuk dalam wadah bulat lebar berwarna orange. Aku hanya terpaku melihat dia. Sambil menunggu pesanan kami,kuperhatikan tiap gerak geriknya, he’s so funny boy i had seen ever!

Sesekali dia menggigit tahu goreng yang dia ambil tadi, sambil mengunyah dan memandangi sekeliling mereka. Sampai pada gigitan terakhir pun, dia tak mengajak aku bicara.

Seakan sengaja dia membiarkan aku yang memulai obrolan kami, tapi.. aku sendiri pun kehilangan ide untuk memulainya. Detik demi detik berlalu dan menit terasa lama. Akupun mencoba bersikap cuek, tapi tetep hati ini seperti bergelora.

Dan.. eng ing eng !! Pesanan kami akhirnya datang, 2 piring mie goreng ditambah sawi dan telur ceplok menghiasi piring berwarna bening itu. Diberikannya satu ke hadapanku, dan satu untuk dia. ” Pakai nasi ya? ” tanya nya ” Ehm, ga usa gini aja udah kenyang kok ” jawabku sambil tersenyum. Sungguh aku sangat menyukai caranya menatapku dan memperlakukanku. Teduh; tapi ada arti dibalik itu semua.

Satu persatu suapan di siang itu sungguh sangat berarti, bekal kami menjalani beratnya hidup ini. Kalah menang, susah senang, bahagia kecewa. Pernah kita alami. Tepatnya 21 Agustus 2002, perjalanan hatiku dimulai bersamanya.

Meskipun saat ini kami terpisah, aku berharap semuanya akan indah pada akhirnya. Terima kasih Ruben.. Kamulah yang berhasil mewarnai hidupku dengan cintamu. Dan aku akan terus berusaha menjaga rasa ini seperti pertama saat kita bertemu 

Apa yang kau inginkan? - Luneta Aurelia Fatma

Apa yang kamu inginkan?
Disaat aku sudah menyerah akan penantian panjang...
Saat aku mulai membuang rasa rinduku...
Saat aku mulai perlahan melupakanmu...

Kamu datang, datang lagi ke dalam kehidupanku.
Memberi harapan-harapan indah yang berakhir semu...

Membuatku mengingat kenangan-kenangan rapuh yang seharusnya sudah terkubur seiring berjalannya waktu...

Aku terpaku menatapmu disini sendirian...
Menatap sosok laki-laki yang dulu pernah sangat kucintai.
Sosok yang juga sekaligus pernah meremukkan hatiku hingga berkeping-keping.
Sosok yang selama ini membuatku merasakan rindu.

Rasa kesepian dan kehampaanku musnah saat kamu datang.
Rasa senangku kembali.
Senyumku kembali mengembang menghiasi wajahku.

Namun...
Aku teringat akan kisah yang lalu...
Yang membuat air mataku selalu jatuh mengalir deras di sudut gelap mataku.
Yang membuat perasaanku tersayat sangat menyakitkan.

Aku tak mau keadaan itu terulang.
Aku tak mau tersakiti lagi.
Walau sejujurnya aku masih mau mencoba membuatmu jatuh cinta padaku...

Apa yang kamu inginkan dariku?
Kamu tau aku sangat menginginkanmu.
Kamu tau perasaan ini seutuhnya berisi namamu.
Kamu tau hatiku terlalu rapuh oleh harapan-harapan palsumu.

Apa yang kamu inginkan?
Apa yang kamu harapkan dariku?
Tolong jangan sakiti perasaanku lagi.
Jangan buat aku menangis lagi.
Jangan buat aku menunggu lagi.

Aku sangat menyayangimu :'(

Tuhan...
Aku berharap...
Kali ini dia tak memberi harapan-harapan palsu lagi.
Kali ini dia serius terhadapku.
Namun, jika tidak biarkan saja dia pergi menjauh dari kehidupanku lagi...
Biarkan saja rasa rindu yang membuatku menangis.

Aku lebih baik seperti ini...
Aku lebih baik mencintai bayanganmu.
Daripada harus dijadikan pelampiasan perasaanmu lagi.

Karna aku tau, kamu datang hanya untuk sementara...
Kamu cuma datang disaat kamu butuh aku kan?

#09 Februari 2012

NO COPAS! NO PLAGIAT!