Selingkuh - Eko Wurianto

Namaku Abdi Nagari, guru Biologi di SMP pelosok yang jauh. Aku sudah menikah dengan seorang perempuan tetangga desa yang berpostur tinggi. Darinya kudapatkan dua anak. Dua-duanya pria dan dua-duanya masih balita saat ini. Yang tampak, keluarga kami bahagia dan baik-baik saja. Tapi yang sebenarnya, tidak sedemikian halnya. Ada rahasia yang kusembunyikan rapat dari keluargaku itu. Sepertinya, aku tidak lagi mencintai istriku.

Aku tidak tahu kapan persisnya hal itu bermula. Seakan-akan rasa cintaku pada ibunya anak-anak hilang begitu saja. Wanita yang pernah kuperebutkan bersama lima pria lain itu, kini seolah tak ada lagi maknanya bagiku. Layaknya debu yang diterbangkan angin saja. Memang, kami masih sering berbelanja atau bersepeda berdua. Selepas isya’, rutinlah kami duduk-duduk di teras depan. Ngobrol sembari menikmati secangkir kopi panas kesukaan kami. Tapi seperti yang telah kukatakan, semuanya itu tidak lagi terdapat rasa. Hambar saja kukira. Tidak seperti waktu dahulu.

Dulu, sekali-kali aku marah pada istriku. Marah atas keteledorannya menjaga buah hati yang kusayangi. Anak yang terpeleset jatuh atau yang tersayat pisau tangannya hingga menangis melolong-lolong membuat tetangga kanan kiri tergopoh-gopoh datang menanyakan. Naik darahlah aku padanya. Hanya, setelah itu, kembalilah semua seperti sedia kala. Seolah aku tidak pernah marah, layaknya istriku tak pernah salah.

Banyak kali pula aku marah karena keadaan rumah yang berantakan. Mirip kapal pecah. Disana-sini mainan anak-anak, potongan-potongan kertas, bahkan ompol si bungsu yang belum juga dibersihkan. Wajar kuanggap kalau aku marah. Lelah aku pulang dari Sekolah. Lelah badan, lelah juga pikiran, kok seperti demikian keadaan rumah. Namun, setelah reda marah, aku sendirilah yang merapi-bersihkan rumah. Sambil menyanyi-nyanyi pula.

Marahku di waktu lampau, marah yang biasa juga dilakukan banyak orang. Tapi sekarang, sedikit-sedikit aku jengkel padanya. Apa yang dilakukan wanita itu hingga sayur kurang asin? Kok tidak pintar dia menyertrika. Baju seragam tak licin-licin juga. Tak nyaman dipakai, tidak sedap dipandang. Kalau sudah demikian, kubentak-bentak ia. Dia musti diam. Jika ia berkicau menyahut kataku, kubanting pintu dan pergi semalaman. Biar tahu rasa.

Yah, mestinya hal-hal sepele seperti itu mestinya tak membuatku marah-marah. Cukuplah menggerutu kecil atau menghela nafas panjang tanda tak senang. Tapi itulah, masalahnya bukan Cuma karena sayur yang kurang asin atau baju yang kurang licin. Tapi masalahnya, aku tidak lagi mencintainya.

Kian hari, kian aku muak dengannya. Kurasa rumah tidak juga rapi. Masakan tak ada yang enak. Dan itu lagi, tubuhnya makin melar saja. Tak ada baju yang cocok dengan badannya. Makin semrawut juga wajahnya. Si tambun dan buruk rupa pula. Batinku.

Beda jauh benar dengan bu Betti, guru geografi baru, pindahan dari sulawesi itu. Tak Cuma potongan tubuhnya yang memikat. Paras wahjahnya pun aduhai. Lagak lagunya cerdas dan tangkas. Bicaranya fasih walau cepat. Singkat kata, bu Betti itu tipe wanita sempurna.

Sejak kali pertama dia tunjuk muka ke sekolahku, aku sudah kenalan dengannya. Kusambung-sambung pembicaraan bersamanya hingga tak ada habis-habisnya. Makanya aku tahu kalau dia sebenarnya janda tanpa terbeban anak. Suaminya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas sebulan setelah pernikahan mereka. Disebab kecintaan penuhnya pada suami, sampai saat ini dia setia melajang.

Rupanya enak pula bu Betti diajak berbincang. Selalu bisa dia menyahut. Nampak terang kecerdasannya. Lama-lama makin asyiklah obrolan. Sepertinya kalau sehari tak ngobrol dengannya, ada yang kurang dari hari itu. Cuma mungkin aku telah kebablasan. Masa kalau bu Betti tak masuk, aku kangen benar padanya. Mulanya aku sadar ini kesalahan besar seorang pria yang sudah beristri. Tapi rasa senang saat berdua dengannya, mengikis akal sehatku. Orang rumah tak tahu kenapa harus dipikir?

Diam-diam, aku mengkhianati istriku. Setelah setahun, kubilang pada bu Betti kalau aku mencintainya. Ku kirim lewat SMS dijawabnya pula lewat SMS setelah dua bulan berselang. Bahagia aku, saat tahu dia merasa sama pula. Hanya, dia bilang, pria beristri tak layaklah menjalin hubungan asmara dengan wanita lain. Tapi kudesak saja ia. Ini rahasia antara dua orang saja. Tidak orang sekantor, tidak orang sekampung yang boleh tahu. Yang penting aku tahu bu Betti cinta aku, bu Betti tahu aku cinta dia. Kasih sayang dilanjut lewat telepon atau SMS rahasia, lewat senyum mesra atau lewat kerlingan mata saja. Atau kirim-kiriman hadiah di hari ulang tahun. Cukuplah seperti itu. Akhirnya bu Betti mengiyakan juga.

Selama beberapa saat, semuanya berjalan lancar. Hubunganku dengan bu Betti aman dan tak ada yang tahu. Sekolah menjadi tempat yang indah, sedangkan rumah adalah tempat yang tak membuatku betah. Hingga sampai di hari itu. Istriku jatuh sakit.

Kenapa juga si Upik Abu itu sakit. Jengkel aku dibuatnya. Kini aku harus mengurusnya. Menambah-nambahi pekerjaan saja. Tambah lama sakit istriku bertambah parah hingga harus opname di rumah sakit. Ingin sekali aku meninggalkannya. Biar saja dia terbaring sendirian di gedung pesakitan itu sendirian. Tapi pasti orang banya akan mengata-ngataiku, menggunjing dan menyalahkanku. Bisa-bisa hubunganku dengan bu Betti akan tersingkap. Jadi kusabar-sabarkan diri merawatnya. Syukur-syukur dia dipanggil Tuhan biar sekalian bebas aku berkasih-kasihan dengan bu Betti.

Tapi benar-benar lelah dan merepotkan mengurus rumah dan anak-anak. Jadwalku sekarang, bangun pukul tiga pagi, memasak atau mencuci dan membersihkan rumah. Jam lima aku bangunkan anak-anak, memandikan mereka dan mengantarkan mereka ke rumah mertuaku. Kutitipkan mereka di sana lalu mampir sebentar ke rumah sakit sebelum ke Sekolah. Pulang dari sekolah, kembali lagi ke rumah sakit sampai sore. Pulang ke rumah lagi. Bersih-bersih, kemudian menjemput anak-anak. Memandikan, menyuapi dan menina bobokan mereka. Sedang di malam hari ibu mertuaku yang menunggui istriku. Atau kadang-kadang aku aku yang di rumah sakita sedangkan anak-anak ditunggui adik iparku.
Terus-terusan seperti itu membuatku lelah sekali. Frustrasi aku mengurus anak-anak yang nakal. Ingin kumarahi saja mereka agar menurutkan maksudku. Tapi aku tak tega juga. Pernah sekali aku marahi salah seorang dari mereka karena kupikir sudah keterlaluan ulahnya. Tapi langsung saja dia menangis dan memanggil-manggil ibunya. Kepada tangis anakku, aku tak sampai hati.

Malam itu, setelah anak-anakku tidur, aku tidak segera tertidur. Kelelahan yang sangat membuatku sulit tidur. Maka aku pergi ke dapur, membuat kopi dan duduk di depan TV. Saat itu acara kesukaan istriku. Biasanya dia tidak ketinggalan menontonnya. Membangunkan aku agar menemaninya menonton dan membuatkan kopi. Agar tidak ngantuk, katanya. Menonton acara itu sendirian tanpa ditemani istriku membuatku memikirkannya untuk yang pertama kali setelah sekian lama.

Sekarang dia tergolek di rumah sakit. Pasti tidak nyaman. Coba dia tidak sakit. Pasti saat ini dia tengah mencoba membangunkanku. Lalu membuatkan kopi. Untuk yang satu ini, dia selalu melakukannya untukku. Hampir tidak pernah aku membuat kopi untuk diriku sendiri. Bahkan saat bertengkarpun, dia masih saja membuatkanku kopi. Ah, aneh. Kenapa aku keterusan memikirkan istriku? Kucoba mengalihkan pikiran pada bu Betti. Tapi pikiran tentang istriku kembali menyeretku.

Sehari-hari dia mengurus rumah, mengurus anak, tak sekali kudengar dia mengeluh atau marah-marah. Semua dikerjakannya saja. Tak pernah dia minta tolong aku mengerjakan pekerjaannya. Dilakukannya semuanya sendiri. Bahkan menyambung kabel setrikaan yang putus. Mengapa baru sekarang aku sadar ya? Padahal dia telah melakukannya sejak lima tahun yang lalu. Semenjak kami menikah.

TV tak kuperhatikan. Pikirku menerawang keluar jendela kaca yang tertembus gelap. Masih terus terkenang istriku. Wanita yang telah kunikahi itu tak pernah mementingkan dirinya sendiri. Selalu dia yang nomor dua setelah aku dan anak-anakku. Pakaianku bertumpuk di dua lemari, sedang dia satu saja. Ketika gadis dulu, pakaiannya modis dan mahal. Kini yang itu-itu saja. Make up dan parfumnya berbeda dengan gadis kebanyakan tahun dahulu. Kini bedak murah saja. Sekedar menutup kulit wajahnya setelah mandi. Lebih dipentingkannya susu anak-anak daripada kecantikannya yang dulu dipuja banyak pria. Mengapa baru sekarang aku sadar betapa dia berkorban demi aku dan anak-anak?
Pagi. Aku tak sadar semalaman. Kukunci pintu rumah, berangkat menitipkan anak-anak. Saat kuambil sepatu, kuperhatikan sandal yang tergeletak di sampingnya. Sandal istriku itu, dua tahun yang lalu aku membelikannya. Istriku masih saja memakainya meski usang sudah. Mengapa baru aku perhatikan sekarang? Suami macam apa aku ini? Aku menyesal. Semakin meyesal saat kubuka pintu kamar rumah sakit. Di atas ranjang, tiga meteran di depanku, si gembrot buruk rupa itu kini kurus dan pucat. Tidur dia hingga tak sadar aku datang. Kupandangi wajah sayu itu dari jarak satu meteran di sebelah kanannya. Tak sanggup mendekat. Sedetik lalu, sesalku pecah menjadi butiran-butiran bening mengalir di atas pori-pori pipiku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar