Putih Abu-Abu - Maretha

Kisah ini berawal saat kami masih memakai seragam putih abu abu.

Bulan Agustus 2002, ada pensi di sekolah. Biasa lah.. pasti heboh bin ajaib di sekolah. Mulai dari band, cheerleader, sampai tari remo pun disajikan.
Sebagai siswa baru, termasuk aku; hanya bisa bengong dan takjub melihat sajian se heboh ini. Hahaha, maklumlah kami kan masih baru lulus dari seragam putih biru.

Hari makin siang, suasana makin naik dan mulailah para teman teman membaur dengan yang lainnya. Mulai berkenalan dan mencoba menjajaki kelas kelas lain satu per satu. Sampailah kami di kelas paling pojok, kulihat ada beberapa anak lelaki duduk di dalam kelas dan ada juga di meja. Sambil bercengkrama, memainkan gitar, bahkan ada yang bergaya seolah-olah dia irfan bachdim dengan gaya yang yaaaa.. 1/8 nya pun tidak mirip sama sekali!

Ketika pandanganku berkeliaran melihat lihat sekitar kelasnya, tiba tiba ada seorang yang berjalan mendekat ke aku. Dan ups... dia menjulurkan tangannya ke arahku pertanda ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Aku belum pernah mengenalnya, bahkan melihatnya pun baru di tempat ini. Tingginya sedang, kulitnya putih, dengan gaya rambut spike yang yaaah.. kubilang lumayan keren untuk saat itu ^^, Dengan baju yang dikeluarkan, celana seragam abu-abu dan sepatu kanvas hitam yang dipakainya sepertinya sudah bisa menceritakan sebagian dari dirinya bahwa dia seorang yang : cuek !

”Ruben.. ” suaranya lembut tapi tidak kemayu, pendek namun jelas, lafalnya tegas dan tidak berlebihan. ”Oh, ehm aku Je, iya Jessica.. tapi biasa dipanggil Je kok.. hehehe” jawabku sambil sedikit grogi, entah angin dari mana seketika itu juga suhu tubuhku meningkat dari sebelumnya. Bukan demam tapi aku meriang, bukan masuk angin tapi aku menggigil. Waaah.. pertanda apa yaaa...

Jam berganti dan bel pulang pun berbunyi, aku pulang dengan sesuatu yang berbeda ketika pertama kalo aku datang tadi pagi. Sepertinya ada lubang di hati yang tertutup oleh sebuah perasaan lain yang aku sendiri pun tidak tahu apa.

Esoknya pensi masih berlangsung, seperti orang punya hajatan, kegiatan itu dilakukan 3 hari berturut turut. Pagi itu entah kenapa, mataku tertuju pada kelasnya, seperti nya aku mencari-cari sesuatu dan itu .. dia!
Ditengah-tengah ekpedisi mataku yang masih berputar-putar pada sebuah makhluk yang ingin kulihat lagi wajahnya, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. ”Hey..”
Oh my GOD! Suara itu sepertinya aku tau?!

Tidaaaak.. apa penampilanku sudah baik? Rambutku? Bandanaku? Aduh aku kelihatan gemuk tidak ya? Suara suara ini seperti membuatku kehilangan konsentrasi dan saking bingungnya sampai sapanya tidak kubalas. Dan dia berlalu... Masuk ke kelasnya.
Damn! Apa yang telah aku lakukan? Pasti dia berpikir aku sombong, atau aku kurang ramah parahnya lagi jangan jangan dia berpikir kalau aku kurang dalam pendengaran.. Hahaha..

Kulupakan segera kejadian yang membuatku speechless, dan berusaha menenangkan diri sambil menikmati alunan musik dari kakak kakak kelasku. Mendengarkan musik memang mampu membuatku lebih tenang. Dan jam pun berlalu sampai waktu makan siang. Aku masuk ke kelas bersama teman teman yang lain, dengan tujuan kami berbarengan ke kantin sekolah. Saat hendak masuk ke dalam kelas, aku mendengar suara dari jauh memanggil ” Je .. ” sambil sedikit celingukan aku pun menoleh... And this is it ( *sambil gaya farah quinn ) sepersekian detik selanjutnya.. Aku segera mengatur keluar masuknya nafasku, menjadi lebih tenang, segera ku tenangkan langkah kakiku berusaha mendekat kepadanya ” Iya ” jawabku, ” Ke kantin yuk ” Belum sempat kujawab, dia dengan gaya cuek yang sangaaaat langsung berjalan di depanku. Ya ampun , seperti terhipnotis aku melongo, sambil tak tahu harus berbuat apa. “Udah ikut aja, kayaknya dia ngincer kamu deh “ Ucap temenku sekelas, Imel. “Eh tapi,,” Jawabku ragu.

Sekitar 1 meter dia terhenti, ditatapnya aku sambil tersenyum “Ayo” kubaca dari bibirnya walaupun suaranya tak terdengar sama sekali karena tertutup oleh hingarnya suara musik dan celotehan anak anak. Seperti tersihir oleh kata katanya yang terakhir, akhirnya aku melengkahkan kaki ku perlahan menuju ke arahnya. Sambil kuayunkan tanganku dan kurasakan hatiku tak seindah hari hari sebelumnya…

Sampailah kami di kantin nomor dua diantara jajaran kantin kantin yang ada. Betul memang, seperti makhluk asing aku melangkahkan kakiku masuk kedalam kantin dengan dekorasi hijau muda itu. Dengan jajanan yang khas Surabaya, dan berbagai jenis
minuman instan yang tergantung rapi. Membuat perutku semakin tak kompromi lagi.

Saat itu keadaan kantin ramai sekali, bunyi suara suara mereka, dentingan aduan gelas dan piring yang dimainkan oleh sepasang suami istri penjaga kantin tersebut. Tak jarang ada yang berteriak ” Bu, es ku mana? ” ” Iya ini loh ” sahut suara yang lain. Suasana yang dinamis, namun yang paling aku suka dari situasi ini adalah : Kebersamaan

” Eh kamu pesan apa? ” seakan membangunkan ku dari lamunan tadi. ” Aku minum saja ” kujawab pendek, karena memang belum pernah kutahu ada menu apa saja di kantin ini. ” Loh jangan, kamu harus makan ” jawabnya lagi. ” mie goreng 2 ya buk, pake telur ” tanpa persetujuan dari aku, langsung diputuskan pesanan kami. ” Ceplok ya jem? ” sahut ibu kantin paruh baya tersebut sambil mulai membuka bungkusan mie instan goreng dengan warna putih itu. ” Iya ” jawabnya lagi sambil mengambil tahu isi goreng yang ditumpuk dalam wadah bulat lebar berwarna orange. Aku hanya terpaku melihat dia. Sambil menunggu pesanan kami,kuperhatikan tiap gerak geriknya, he’s so funny boy i had seen ever!

Sesekali dia menggigit tahu goreng yang dia ambil tadi, sambil mengunyah dan memandangi sekeliling mereka. Sampai pada gigitan terakhir pun, dia tak mengajak aku bicara.

Seakan sengaja dia membiarkan aku yang memulai obrolan kami, tapi.. aku sendiri pun kehilangan ide untuk memulainya. Detik demi detik berlalu dan menit terasa lama. Akupun mencoba bersikap cuek, tapi tetep hati ini seperti bergelora.

Dan.. eng ing eng !! Pesanan kami akhirnya datang, 2 piring mie goreng ditambah sawi dan telur ceplok menghiasi piring berwarna bening itu. Diberikannya satu ke hadapanku, dan satu untuk dia. ” Pakai nasi ya? ” tanya nya ” Ehm, ga usa gini aja udah kenyang kok ” jawabku sambil tersenyum. Sungguh aku sangat menyukai caranya menatapku dan memperlakukanku. Teduh; tapi ada arti dibalik itu semua.

Satu persatu suapan di siang itu sungguh sangat berarti, bekal kami menjalani beratnya hidup ini. Kalah menang, susah senang, bahagia kecewa. Pernah kita alami. Tepatnya 21 Agustus 2002, perjalanan hatiku dimulai bersamanya.

Meskipun saat ini kami terpisah, aku berharap semuanya akan indah pada akhirnya. Terima kasih Ruben.. Kamulah yang berhasil mewarnai hidupku dengan cintamu. Dan aku akan terus berusaha menjaga rasa ini seperti pertama saat kita bertemu 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar